Skip to main content

CERPEN TERBARU KARYA JERI ARIYANTO, "AKU INGIN MATI SAJA"

AKU INGIN MATI SAJA
Sebuah cerpen karya: Jeri Ariyanto 

   Tak pernah ku kira, jika hidup itu rasanya teramat pahit, sakit, dan juga tidak adil. Aku pernah berpikir. Jika aku harus memilih antara dilahirkan atau tidak ke dunia ini. Aku mungkin memilih tidak di lahirkan ke dunia. Namun kenyataannya tak bisa seperti itu. aku tak pernah bisa memilih takdirku sendiri.
   Banyak orang bilang, jika ada masa dimana kita akan bahagia. Tapi kurasa itu tidak berlaku padaku. Kesedihan dan juga masalah silih berganti datang menerpa hidupku. Satu persatu masalah itu ku hadapi sendiri. Tak bergantung pada orang lain. Begitupula kesedihan, yang tak pernah berhenti mengitari hidupku. Menjadikan ku sesosok wanita tangguh.
   Aku pernah terjatuh ke dalam pusaran kepedihan. Membuatku merasa ingin mati saja. Namun hidup nampaknya tak bisa demikian. Aku tak boleh lebih lemah daripada sekam padi yang mudah tertiup angin, dan juga terbakar menjadi abu. Aku juga tak boleh lebih rapuh daripada sehelai jaring laba-laba yang putus karena tersentuh tangan. Ada satu senyuman yang harus aku perjuangkan.
   Dua tahun silam. Saat usiaku genap enam belas tahun. aku hidup bertiga di sebuah rumah sederhana. Dekat sebuah komplek, di perbatasan Ciamis-Tasikmalaya. Rumah beratapkan genting  yang kian ditumpangi lumut. Tak jarang jika hujan turun, aku sering menggeser-geserkan posisi genting agar tidak terlalu banyak air hujan yang masuk kedalam  rumah karena bocor. Dua tiang pilar terbuat dari coran semen terpampang di teras depan rumah, berbentuk persegi panjang. Di kanan dan kiri. Keduanya juga sudah mulai ditumbuhi lumut. Tak heran jika setiap tahun rumahku semakin terlihat kumuh, karena tak pernah dirawat seemenjak peristiwa itu terjadi.
    Hampir setiap malam di rumah sederhana ini, aku suka bercerita kepada Aras, adik laki-lakiku yang baru berusia lima tahun saat itu. sekedar mendongeng cerita si kancil, agar ia mau tidur dan tidak menangis karena menunggu ibu yang belum pulang bekerja.
   Ibu bekerja sebagai pelayan di sebuah warung nasi di kota Tasikmalaya. Setiap hari ibu berangkat pagi-pagi sekali, dan pulang kadang larut malam. Lokasi tempat ibu bekerjapun lumayan jauh. Jika dari rumah, ibu bisa tiga kali naik mobil angkutan  umum. Dulu sebelum peristiwa itu, ibu tidak bekerja. Ia diam di rumah. Sebagaimana layaknya ibu rumah tangga.
   Aku kasihan kepada Aras yang tumbuh tanpa perhatian dari kedua orang tua. Terutama dari seorang ayah. Aras hanya mengenali sosok ayah dari foto hitam putih yang di tempel di dinding kamar ibu. Setiap kali ia bertanya tentang ayah, aku hanya bisa sedikit mengarang cerita agar ia senang. Sesekali pertanyaannya membuatku sedih dan tak pernah bisa aku jawab. Aku hanya bisa mengalihkan topik pembicaraan.
   Aku masih ingat betul saat aku kelas empat SD, dan Aras masih ada dalam kandungan ibu. Saat itu ayah pulang ke rumah siang hari. Ku lihat dagangannya masih menumpuk di gerobak, mungkin hanya berkurang sedikit dari yang ia bawa waktu pagi. Ayah menghampiri ibu. Tak sengaja, aku ikut menguping pembicaraannya. ayah mengatakan ingin pergi berdagang gorengan ke pulau Sumatra. ikut dengan rekannya yang juga seorang pedagang makanan di sana. Katanya peluang berdagang di sana sangat besar.
   Pada awalnya ibu tidak mengizinkan ayah untuk pergi, karena lokasinya yang jauh dan juga ibu sedang hamil muda saat itu. namun ayah bersikukuh meyakinkan ibu agar ia dapat berangkat ke pulau Sumatra. Berdalih untuk memperbaiki ekonomi keluarga, yang sangat terbatas kala itu. Hingga pada akhirnya ibupun mengizinkan ayah untuk pergi ke sana.
Hari kamis, hari keberangkatan ayah ke pulau Sumatra.
    Pagi itu, aku sedang asik duduk di teras depan rumah. Memandangi kendaraan yang lalu lalang melintas di perbatasan Ciamis-Tasikmalaya. Ayah membukakan pintu, membawa satu buah kerdus berisikan bahan makanan dan juga tas ransel yang penuh dengan barang bawaan. Ayah menghampiriku. mencium pipiku, juga memangku tubuhku di lahunannya. Ayah bicara padaku dengan wajah yang amat tegang dan sedikit pucat, “Tari, ayah mau berangakat sekarang. Kamu jagain ibu dan calon adikmu di rumah. Jangan banyak main, nanti ayah belikan baju baru dan sepeda untuk Tari.”
Seketika itu, ku lihat mata ayah berair, bibirnya gemetar seakan menahan tangis. Tak lama ibupun keluar mengahampiri kami. ayah segera beranjak dari tempat duduk, melepaskan lahunannya yang terasa hangat saat itu. lalu ayah berpamitan dengan ibu. Mencium kening ibu, dan langsung memelukku. Ayah berkali-kali menciumi pipiku. Air mata ayah menetes dan berkata, “ayah berangkat sekarang ya, do’akan ayah. Tari harus jadi anak yang pintar”. Lalu ayahpun pergi, melangkahkan kaki menuju pinggir jalan tanpa menoleh ke belakang. Ia  menyetop sebuah mobil angkutan umum yang melintas di depannya.
      Keesokan harinya. Saat aku baru bangun tidur. Dari kamar, aku mendengar ibu sedang berbicara di telepon dengan ayah. Raut wajah ibu terlihat senang, karena ternyata ayah sudah sampai di pulau Sumatra. Untuk sementara waktu ayah menumpang di kontrakan temannya disana.
Selang satu minggu keberangktan ayah ke sumatra.
Sore itu, aku dan Silvia teman sekelasku. Berencana  mencari jamur sepulang sekolah. Kami berdua mencari jamur yang tumbuh liar di kebun-kebun  yang kami lalui saat pulang sekolah. Kebiasaan  ini sering kami  lakukan setiap kali musim panas dan hembus anginnya sedang kencang. Kata ayahku saat itulah jamur sering tumbuh liar di kebun-kebun.  Terlebih desa kami masih banyak sekali kebun dan pesawahannya. Walau sedikit demi sedikit pembagunan komplek perumahan mulai bermunculan di desa ini. Banyak kebun dan juga sawah milik warga menjadi sasaran untuk dijadikan lahan pembangunan semata. Akibatnya mungkin, dua puluh tahun kemudian tak ada lagi udara segar nan asri disini.
   Aku suka jamur. Kadang aku sering mencampurnya ketika memasak mie instan. Rasanya enak sekali. Bahkan lebih enak dari nasi goreng buatanku sendiri.
    Tiga jam sudah aku dan Silvia menghabiskan waktu mencari jamur sepulang sekolah. Kami masing-masing mendapatkan dua jamur. Lalu kami berdua bergegas untuk segera pulang ke rumah. Rasanya tak sabar ingin segera memasak jamur yang didapat hari ini. Rumahku dan rumah Silvia satu arah dari sekolah. Hanya dipisahkan oleh persimpangan menuju komplek saja. Sepanjang jalan, kami berdua saling tanya jawab perkalian yang di hapalkan setiap pagi di sekolah. Dari perkalian satu sampai sepuluh. setibanya di persimpangan komplek, aku dan Silvia berpisah karena berbeda arah. Rumah silvia lurus terus menuju desa. Sedangkan rumahku belok ke kiri menuju arah komplek perumahan.
   Dari kejauhan aku melihat sebuah keramaian, orang-orang bergerumun di halaman dekat rumahku. Ini tak biasanya. Kakiku seakan terasa berat untuk melangkah. Padahal rumahku sudah dekat. hanya berjarak kurang lebih sepuluh meter di depanku. Kesedih nampak tergambar di wajah orang-orang itu. Suasananya nampak tegang sekali. Perasaanku tak karuan, karena mereka berkumpul di rumahku. Orang-orang itu menghampiriku yang kebingungan di halaman rumah. Mengelus-elus kepalaku. Dan mengatakan sabar. Seraya mereka sangat menyangiku. Tepat sebelum aku masuk ke rumah, aku di bawa kang Ujang tetanggaku ke rumahnya. Aku di suruh duduk di ruang tamu, dan ia bergegas ke dapur membawa segelas air putih untukku.
   “kang ujang ini teh ada apa? Ibu kenapa?” tanyaku yang masih kebingungan.
   “Ini nih minum dulu, neng Lestari pasti haus kan baru pulang sekolah?” Jawab kang ujang, sambil menyodorkan air minum.
Aku mengangguk, dan meminum segelas air putih dari kang Ujang.
   “neng Lestari yang sabar ya, Ibu eneng mah baik-baik aja.”
   “terus ini teh ada apa kang? Ibu ngadain hajatan ya?
Mata kang Ujang berair. Dia mengepuk-ngepuk pundakku sambil berkata, “ enggak neng bukan hajatan. Neng Lestari yang sabar ya neng, Bapak eneng atos ngantunkeun urang sadaya tadi pagi.”
Tiba-tiba badanku rasanya lemas mendengar itu. aku bingung mau berkata apa. Aku bingung harus berbuat apa. Waktu rasanya terhenti seketika. Aku sekejap menangis sejadi-jadinya, mengingat ayah yang selalu baik padaku.
   Tak berapa lama, bi Isah istri kang Ujang datang menghampiriku. Mencoba menenangkannku yang sedang menangis kencang-kencang. Ia bercerita tentang kepulangan  ayah. Terlihat wajah bi Isah seperti sudah menagis. Dia berkata, “neng, semua orang akan mati. Eneng teu kedah sedih. Ayah mah udah tenang di surga. Ayah eneng mah tidak bilang pas angkat ka Sumatra. Kalo ternyata ayah eneng teh lagi sakit, temen ayah eneng bilang. Ayah eneng tiga hari kebelakang demam tinggi, tapi teh gak mau di bawa berobat ke dokter. Pas malam tadi di paksa ke dokter. Pek teh ayah eneng kena demam berdarah tos parah. Tadi subuh ayah eneng atos ngantunkeun urang salerea, di panggil sama tuhan.”
Cerita bi Isah membuat tangisanku semakin kencang. Aku beranjak dari rumah kang Ujang, berlari menuju rumahku yang masih banyak dengan orang melayat. Aku lihat ibu terbaring lemas di kamar, dengan beberapa orang  yang menunggu di sekitar. Aku memeluk ibu erat sambil menangis kala itu.
   Kejadian lima tahun lalu itu. serasa sesak dalam dada jika diingat-ingat kembali. Dua bulan setelah itu. adik laki-lakiku lahir ke dunia. Ibu memberikan nama Arasyid. Mengambil nama belakang ayah yaitu Ahmad Arasyid.
   Sejak saat itu kehidupan keluargaku drop. Seperti pribahasa, sudah jatuh tertimpa tangga. Perekonomian keluarga kian sulit. Untuk membeli susu Aras saja. Ibu kadang meminjam uang ke kang Ujang. Tak jarangpula kang Ujang setiap harinya mengantarkan makanan ke rumahku. Karena di rumah tidak ada apa-apa untuk dimasak.
   Ibupun akhirnya memutuskan untuk bekerja dan mencari pekerjaan. Suatu hari, ibu mendapat pekerjaan menjadi pelayan di sebuah rumah makan. Setiap hari ibu hanya punya waktu sebentar di rumah. Aku kadang bolos sekolah hanya untuk menjaga Aras. Terkadang jika aku sekolah dan ibu bekerja Aras di titipkan ke bi Isah. Perekononiam keluargaku sedikit membaik walaupun sekarang ibu menjadi jarang di rumah.
   Lambat laun perhatian ibu tak lagi aku rasakan, setelah peristiwa itu berlalu. rasanya ibu makin aneh, makin acuh pada aku dan Aras. Setiap bulan Ia hanya memberikan aku uang untuk membeli makanan sehari-hari dan juga kebutuhan sekolahku. Banyak hal yang aku ingin ceritakan padanya, namun ia tak punya banyak waktu. Sebenarnya aku hanya kasihan pada Aras.  Rasanya ini tidaklah adil untuknya. Ia tumbuh dan mendapat perhatian hanya dari aku dan juga bi Isah saja.
   Waktu berjalan cepat, usia Aras menginjak lima tahun. walau kurang perhatian dari kedua orang tua. Aras tumbuh menjadi anak yang baik dan rajin. Saat itu, setelah kelulusan SMP. Aku bertekad bulat. Memutuskan untuk mencari pekerjaan saja. Aku hanya bisa terdiam jka teman-temanku bertanya, “mau melanjutkan ke SMA mana?” hatiku rasanya iri melihat mereka yang sibuk mengurusi pendaftaran SMA setelah kelulusan.
    Aras menjadi alasan utama kenapa aku harus bekerja. Aku tak ingin merepotkan bi Isah lagi. Dan bagiku sosok ibu mungkin sudah tak bisa ku harapkan lagi, setiap tahun ia semakin acuh. Bahkan setiap bulan ia hampir jarang pulang ke rumah. Sekedar untuk menjenguk anakpun tak ada waktu. Teman-temanku pernah bilang kalau aku cantik, kulitku putih, dan senyum yang manis dengan lesung pipi di wajah. Kata mereka aku cocok jadi model, atau hanya sekedar mejadi sales promotion girl.
   Hari demi hari aku lalui dengan tanya kanan-kiri, mencari lowongan pekerjaan kesana-kemari. Rasanya sulit sekali mencari pekerjaan untuk lulusan SMP. Aku sempat putus asa, sebelum akhirnya aku bertemu Zaki di sebuah angkutan umum. Secercah harapan aku dapatkan darinya. Pemuda berkacamata dengan kulit sawo matang, dan rambut yang rapih belah pinggir. Aku berkenalan dengannya saat aku pulang mencari pekerjaan. Aku lupa jika ongkos pulangku sudah aku belikan air dan juga roti. Di dalam angkutan umum, aku gelagapan saat aku hampir sampai ke rumah dan mencari uang untuk ongkosku tidak ada. Pria di sampingku bertanya padaku. “kenapa teh?”
   “enggak a, ini aku lupa bawa uang.” jawabku, sembari panik karena rumahku semakin dekat.
   “ohh, mau kemana emang?”
   “itu aku turun di depan” sambil menunjuk ke arah komplek.
Pria itupun langsung berkata ‘kiri’ (menberhentikan angkot), sesaat sebelum aku ingin berbicara kepada supir jika aku tak punya ongkos. Ia membayari ongokosku. Lalu turun berbarengan. Aku hanya bisa mengucapkan banyak terimakasih padanya. Ia memperkenalkan diri, namanya Zaki. Ternyata ia memang satu tujuan denganku. Ia akan berkunjung ke rumah temannya di komplek dekat rumahku. Seturun dari angkot aku sempat bercerita padanya jika aku sedang mencari pekerjaan. Ia sempat tak percaya jika aku lulusan SMP kemarin, dan masih berumur enam belas tahun. mungkin karena badanku yang agak bongsor.
    Sejak kejadian itu, Zaki sesekali mampir ke rumahku jika sedang berkunjung ke rumah temannya di komplek. Zaki adalah seorang mahasiswa tingkat awal. Lulusan SMA kemarin. Satu waktu ia datang ke rumah. Lalu menawariku untuk bekerja sebagai sales promotiom girl di sebuah dealear motor di Tasikmalaya. katanya sedang ada lowangan. Ia medapati kabar dari temannya yang juga sedang mencari pekerjaan. Jika aku bersedia, ia akan membantuku membuat lamaran. Aku bergembira mendengar kabar baik itu.
    Beberapa hari Zaki sering bertamu ke rumahku. Membantuku membuatkan surat lamaran pekerjaan. Hingga pada akhirnya akupun diterima sebagai spg di sebuah dealer motor berkat bantuan Zaki. Kembali aku hanya bisa mengucapkan terimakasih padanya.
    Aku senang, kali ini aku tak lagi meminta-minta uang pada ibu yang entah dimana. Untuk sekedar membeli makan, dan juga kebutuhan sehari-hari, aku sudah bisa mencukupinya dari hasil keringatku sendiri. Meski kadang rasanya uang dari hasil aku menjadi spg saja tidaklah cukup untuk menhidupi aku dan Aras. Terutama untuk membahagiakan Aras yang tahun depan sudah harus bersekolah. Aku butuh uang lebih. Akhirnya Aku mulai mencoba berusaha mengerjakan pekerjaan lain di samping menjadi spg. Aku berjualan online seputar fashion wanita. Selembar demi selembar uang berdatangan dari hasil penjualan itu. setiap hari aku menyisihkan beberapa untuk ditabung di celenganku. Untuk berjaga-jaga bilamana nanti ada kebutuhan mendadak aku dan Aras.
   Bulan ini aku memang sibuk bekerja. Aras sering sendirian di rumah. Kalau tidak bermain dengan Deden anaknya kang Ujang, sesekali Zaki sering main ke rumah untuk menjaga Aras, dan menemaninya bermain. Hari Sabtu esok Aras ulang tahun. aku ingin membelikannya sepeda, agar ia bisa bermain sepada layaknya anak-anak lain. Aku mengambil sebagian uang tabunganku di celengan untuk membelikannya sepeda.
Hari ulang tahun Aras.
   Sore itu, sepulang aku bekerja menjadi spg. Aku lekas bergegas ke sebuah bengkel yang menjual sepeda. Aku sangat gembira sekali karena bisa membelikan Aras hadiah ulang tahun. sebuah sepeda bekas yang ingin cepat-cepat kubawa pulang. Dengan menggunakan ojek aku bawa sepeda itu ke halaman rumah. Sesampainya di rumah, aku tak sabar ingin memberikan hadiah ulang tahun padanya. tapi di rumah sepi. Aku tidak melihat Aras. bi Isah mendatangiku dengan tergesa-gesa. Ia memberi tau jika Aras tadi siang di bawa ke Jakarta oleh ibu. Dia akan tinggal dan bersekolah disana bersama ibu. Tadi ibu nitip salam untuk neng Tari, katanya eneng sudah punya ayah baru disana.
   Untuk saat itu rasanya tak karuan, aku seperti masuk kembali ke pusaran kepedihan yang semakin dasyat menggoyahkan hidupku. Hadiah ulang tahun untuk Aras membuatku ingin membunuh diriku sendiri. Bosan rasanya menjalani hidup yang tidak adil ini. Semuanya pergi meninggalkanku tanpa penjelasan.
   Aku mengurung diriku satu minggu di kamar dengan sepeda yang aku beli sebagai kado ulang tahun Adikku. Hingga ayah datang dalam mimpiku bak penyelamat. Aku mengerti. Hidup tidak boleh putus asa, walaupun dunia ini runtuh menimpaku, aku harus tetap berdiri. Aku sekarang ikhlas merelakan kepergian Aras dengan ibu yang menempuh hidup baru di kota besar. Juga almarhum ayah yang mungkin selalu melihat perjuanganku selama delapan belas tahun.
   Aku mengenalmu sudah lama. Maaf jika aku baru bisa menceritakan semuanya dengan lengkap padamu hari ini. Terimakasih kamu telah mengambil peran dalam cerita hidupku. Zaki seketika memelukku dengan erat dan meneteskan air matanya, setelah tadi pagi ia menyatakan persaannya padaku. Zaki memintaku untuk menjadi pacarnya. Hari ini aku menghabiskan waktu di alun-alun Ciamis dengan pacarku, ya aku menerima Zaki menjadi pacarku. Detik ini aku merasa benar-benar menjadi wanita yang sangat hebat.-Tamat 

#Sebelumnya terimakasih sudah besedia membaca karangan saya. mungkin masih banyak kekurangan. maka dari itu, saya minta maaf apabila ada yang salah entah pada kata, ejaan, kalimat, paragraf, maupun pada jalan ceritanya. karena pada hakikatnya manusia tak luput dari kesalahan. wkwkwk
beri saya masukan berupa kritik dan saran ataupun perasaan kalian sesudah membaca cerpen di atas dengan berkomentar agar saya bisa lebih baik lagi untuk kedepannya. SALAM LITERASI. 

Comments

  1. Kerenn bro ceritanya, mendalam sekali!

    ReplyDelete

Post a Comment